“Apa yang Kaucari di Ubud, Vabyo?” – Berbincang dengan Valiant Budi, Penulis “Forgotten Colors”

vabyo1

VALIANT Budi mulai menulis novel pada tahun 2007 berjudul Joker, Ada Lelucon di Setiap Duka. Selanjutnya, ia terus berkarya; Bintang Bunting (2008), “Parfum Impian” di buku The Journeys; Kisah Perjalanan Para Pencerita (2011), Kedai 1001 Mimpi; Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI (2011), “Ramalan di Desa Emas” di buku Kala Kali (2012), “Kamis, Puk Puk” di buku Menuju(h) (2012), “Sahabat Gelap” di buku Memoritmo (2012), “Valiant ke Vatikan” di buku The Journeys 3 (2013), Kedai 1002 Mimpi (2014) dan novel terbarunya berjudul Forgotten Colors (2017).

***

Di atas adalah biografi singkat seorang Valiant Budi yang saya salin dari salah satu novelnya.

Saya bertemu dengan Valiant Budi atau akrab dipanggil Vabyo sekitar tahun 2013 di Ubud. Kami sering berpapasan di jalan-jalan desa Ubud namun baru bisa bekerja sama di salah satu acara sastra yang diadakan di Denpasar, Bali. Saat itu saya belum mengenal siapa dia ataupun membaca salah satu buku- bukunya, sampai akhirnya mencoba mencari tahu, siapakah dia? Buku apa yang ia tulis? Dan Mengapa dia di Ubud?

Yang saya tahu akhirnya ia adalah Kedai 1001 Mimpi. Saya pikir, dia hanya tinggal di Ubud untuk waktu yang sementara dan singkat, ternyata Vabyo masih ada, bergentayangan, dan melahirkan sebuah novel di Bali.

Berikut adalah sesi intim saya dengan penulis buku Forgotten Colors, yang saya rangkum menjadi 11 pertanyaan rahasia saya untuk Vabyo.

Gustra:
Halo Vabyo apa kabar? Semakin bahagia saja ya! Dari dulu saya ingin bertanya, mengapa Ubud? Mengapa pergi dari Bandung? Apa yang sebenarnya Vabyo cari di Ubud? Maaf ya, ini menjadi pertanyaan pertama saya.

Vabyo:
Halo, Gustra! Kabarnya lagi kembang kempis bahagia. Jadi begini, saya seneng banget jadi orang asing; menjelajahi tanah yang belum pernah terjamah diri. Nah, tahun 2013 saya mengunjungi sahabat, Windy Ariestanty, yang sedang mewawancarai ibu Robin Lim di Ubud. Niat kunjungan ini cuma dua minggu, tiba-tiba jadi sebulan, tahu-tahu beli tiang jemuran, kemudian lanjut tiga bulan—sampai akhirnya tiga tahun. Yang saya cari di Ubud itu banyak banget, dari tiang jemuran, gayung air, kulkas mini, apa pun yang bikin hidup mudah.

Gustra:
Jika bicara tentang Ubud, apa yang menarik tentang Ubud? Seberapa besar Ubud memberikan pengaruh bagi tulisan – tulisan Vabyo?

Vabyo:
Seringkali yang membuat betah adalah rasa rumah. Saya tinggal di Bandung utara. Lekuk jejalanan dan pepohonan Ubud itu mirip-mirip Bandung bagian utara. Selain itu, Ubud terhiasi dengan harum dupa, wangi bunga, langit yang lebih biru, dan bunga-bunga bermekaran dari jajaran pohon kamboja. Ngangenin, deh.

Ada pohon beringin di pasar Peliatan yang selalu menarik perhatian saya: sari akar-akar pohon yang menjuntai dan ruang kecil di atas pohon. Pohon beringin itulah salah satu inspirasi novel terbaru Forgotten Colors; menjadi pembuka dan kunci cerita. Jadi pengaruh Ubud untuk tulisan saya sebesar pohon beringin!

Gustra:
Jika Ubud tidak ada, daerah mana di Bali yang membuat Vabyo merasa nyaman?

Vabyo:
Saya nyaman bila suasana tenang; area yang tidak sekomersil Kuta, tidak seramai Seminyak. Lebih asyik lagi kalau ada spot menulis dan tempat rebahan di bawah pohon rahasia. Tempat itu adalah Sanur! Tiap minggu, pasti ada acara kabur ke Sanur. Yuk #KaburKeSanur!

Gustra:
Saya sering melihat Vabyo berjalan kaki dari pusat desa Ubud menuju Desa Peliatan. Apakah rutinitas itu masih dilakukan? Apakah rutinitas ini juga Vabyo lakukan di kota – kota lain, misalnya saat menjadi TKI?

Vabyo:
Ternyata Gustra ini stalker, toh! Hahaha.
Dua tahun lalu kan terserang strok, jadi perlu olahraga yang tidak banyak hentakan; yaitu jalan kaki. Baru rajin jalan kaki itu, ya pas tinggal di Ubud ini. Waktu pas jadi TKI di Saudi sih, lebih sering bikin kopi ketimbang jalan kaki. Maklum, panas banget dan sering berbadai pasir. Lagipula saat itu belum mawas kesehatan, sih; lebih sibuk mikir bagaimana caranya kabur dari majikan!

Gustra:
Jika bertemu Vabyo atau mengikuti media sosialnya, Vabyo terlihat selalu senang dan bergembira. Tapi, pertanyaan tidak berhubungan dengan itu. Apa arti sebuah penderitaan dan kebahagian bagi seorang Valiant Budi?

Vabyo:
Bahagia itu buat dibagi-bagi. Menderita lebih nyaman sendiri. Karena itu lebih senang pamer bergembira. Menangis di kamar mandi saja bareng kecoak.

Gustra:
Pernah menjadi TKI, menulis lagu, lulusan hukum di salah satu Universitas di Bandung, seorang penyiar radio, penulis, adakah yang belum tercapai atau ingin dicapai lagi?

Vabyo:
Tentu ada; berkebun! Ada kebahagiaan tersendiri ketika jemari meremas tanah, menanamkan benih, dan menyaksikan mereka tumbuh kembang, berkecambah, berbuah.
Di rumah orangtua di Bandung, kami menanam bermacam-macam tanaman dan buah, mulai daun jeruk, sawo, pepaya, sampai cabai. Sayang di Ubud belum punya tanah, nih! Baru ada pot, itu pun pinjam teman.

Gustra:
Dalam karya – karya Vabyo, seberapa besar pengaruh kehidupan nyata dalam karya – karyamu? Menurut Vabyo pentingkah kejadian atau pengalaman hidup bagi seorang penulis?

Vabyo:
Semakin sini, porsi kemiripan novel dengan kehidupan nyata semakin besar!
Novel pertama Joker—Ada Lelucon Di Setiap Duka, berlatar belakang dunia broadcasting, yang mana saat itu saya kerja di radio. Novel terbaru; Forgotten Colors, saya dan karakter utama sama-sama seorang penyintas strok. Jadi pengalaman hidup itu memperkaya tulisan. Tapi, memangnya ada profesi yang tidak mementingkan pengalaman hidup?

Gustra:
Bagaimana cara Vabyo meminta bill kepada pelayan di café? Misalnya gerakan – gerakan, atau langsung datang ke kasir?

Vabyo:
Saya biasanya langsung datang ke kasir sih, menunggu mereka selesai beraktivitas.
Berhubung pernah kerja jadi barista sekaligus menyambi jadi kasir dan cleaner, tau rasanya ketika lagi sibuk bersih-bersih meja misalnya, kepala direcoki pesanan-pesanan pengunjung yang kadang ribet itu. Belum ada yang nyari sambel, ada yang nanya toilet di mana, nanya wifi password.

Dulu pas kerja di Saudi, awal-awal sering kaget. Mereka kalau meminta bill kayak menggal telapak tangan. Kalau perlu kami, kayak manggil burung. Semenjak itu, saya semakin menaruh hormat pada pelayan cafe. Profesi ini sungguh pekerjaan multitalenta!

Gustra:
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana sesungguhnya proses kreatif seorang Vabyo?” Jujur, apakah itu menjadi pertanyaan yang membosankan? Sebutkan juga kelakuan pembaca yang paling menganggu selama ini?

Vabyo:
Sesungguhnya itu tidak sebosan pertanyan “Sudah makan?” kok!
Eh, pertanyaan ini perlu dijawab, gak? Jadi, saya semakin kreatif ketika tertekan. Semua buku saya berawal dari keresahan. Jadi proses kreatif saya adalah memanfaatkan sensasi sakit hati, mendaur ulang musibah menjadi berkah. Kelakuan pembaca yang paling mengganggu adalah mereka yang menggemboskan ban mobil dan teror meneror.

Gustra:
Sebutkan satu hal menurut Vabyo yang perlu penulis lain ketahui sebagai penulis?

Vabyo:
Writer’s block itu cuma ilusi. Takut menulis jelek adalah kenyataan. Solusi: bebaskan tulisan, pertajam suntingan.

Gustra:
Bagaimana menurut Vabyo tentang perkembangan penulis – penulis asal Bali saat ini?

Vabyo:
Saya mau jujur mengaku dosa, 2 tahun terakhir tidak begitu mengikuti perkembangan sastra, termasuk penulis Bali. Karena kebutuhan, saya lebih banyak baca buku-buku kesehatan.

Saya pernah baca buku karya Putu Fajar Arcana, berjudul Surat Merah Untuk Bali, terbitan tahun 2007. Di buku itu ada sebuah ‘Pertanyaan untuk tradisi’, tentang sahabat wanitanya yang frustasi karena sering dicemooh akibat bekerja sebagai pembawa acara—karena sejatinya wanita itu harus mengurus rumah tangga.

Selalu mencengangkan bila mengetahui sesuatu yang dianggap biasa di suatu daerah, bisa jadi tabu di daerah lain.

Saya ingin sekali membaca perspektif penulis muda tentang adat istiadat Bali. Saya pun banyak pertanyaan dan pengamatan selama tinggal di Bali. Tapi sebagai pendatang, saya rasanya sungkan kalau ibarat sudah numpang, malah ‘ikut campur’ urusan yang punya rumah. Jadi, kalau ada rekomendasi buku penulis Bali, mohon colek saya ya?

Gustra: 
Hahaha.. Terima kasih atas waktunya ya Vabyo. Semoga sukses selalu!

***

eflayer

Valiant Budi akan meluncurkan bukunya yang berjudul Forgotten Color di Littletalks Ubud, Bali pada tanggal 29 September 2017, pukul 19:00 Wita. Vabyo mengundang semua kawan – kawan untuk datang ke Undangan Tumpengan Forgotten Colors, merayakan mimpi, kenangan, dan kerinduan. Sampai jumpa di Littletalks Ubud! (T)

Tulisan ini dimuat di Tatkala.co 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s