Ngelantur bareng Kuncir Sathya Viku

Pada suatu siang di sebuah kantor di Ubud, Bali. Kuncir Sathya Viku yang akbrab dipanggil Kuncir sedang tidur siang di lantai kantor itu menggunakan sebuah bantal besar berwarna hijau. Tim Littletalks tidak berani menganggu tidur pulasnya dan kami hanya menunggu dia terbangun dari tidurnya yang lelap itu.

Kira – kira pukul 3 sore dia pun terbangun. Dan kami meminta ijin untuk menanyakan beberapa hal yang mungkin tidak terlalu penting untuk dijawab, tetapi kami yakin baginya ini merupakan hal yang sangat penting.

Kuncir lahir dan tumbuh di kabupaten Tabanan, Bali. Seorang ayah dan seorang suami yang dulu berkuliah di ISI Denpasar, Bali. Memulai kariernya di dunia lawakan tunggal membuatnya mulai dikenal orang – orang baik di Bali maupun luar Bali. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang pegawai kantoran di bidang design grafis.

Kini namanya sudah mulai dikenal “dunia persilatan” seniman di Bali, Littletalks dengan berani menanyakan beberapa pertanyaan personal yang hanya akan dapat kamu baca pada blog ini. Bagaimana sebenarnya ia bisa menjadi seniman seperti sekarang ini? Dan siapakah sesungguhnya Kuncir itu? Simak wawancara kami yang penuh halusinasi!

DSCF1614
30 Sep – Pembukaan Pameran ‘Comfort Zone’

Littletalks: Halo Kuncir sudah bisa ditanya – tanya gak nieh? Bisa diceritakan sedikit bagaimana bisa menjadi seniman seperti Kuncir sekarang ini?
Kuncir: Karena apa ya? Karena Feel better. Ngerjainnya yang sekarang ini gak kayak sebelum – sebelumnya, merasa lebih enakan gitu. Karena ini menyangkut perjalanan‘rohani’ dan batiniah.

Littletalks: Lalu suka menggambar ketika sedang dalam perasaan bagaimana?
Kuncir: Ketika merasa perlu untuk menggambar. Jadi kadang maksudnya, ada satu saat udah digambar dipikiran gen tapi belum mau gambar. Nanti menunggu waktu yang tepat untuk ngegambar. Aku bukan tipe orang yang selalu bisa menggambar, aku simpan di ‘air drop’ pikiranku.

Littletalks: Puas gak dengan hasil karya sekarang?
Kuncir: Ya. Puas secara rohani. Tapi haus akan kepuasan.

Littletalks: Menurut kamu apakah kamu menentang budaya sendiri dengan karya –karyamu?
Kuncir: Tidak menentang budaya, lebih nyaman ngomongin budaya dengan pendekatan budaya. Jadi yen orang menentang to, gak juga. Tapi itu juga sebuah bentuk protes. Tapi bukan dari karakternya, bukan dari aksaranya, tapi lebih dengan tema yang dibawakan.

Littletalks: 10 tahun lagi, bagaimana melihat dirimu sendiri sebagai seniman?
Kuncir: Harusnya tetap gini sih, ya tetep berkarya… tapi gak tahu pencapain dan apanya itu… Aku gak bisa ditanya itu, gak punya ide untuk semacam ke masa depan.

Littletalks: Memilih ke masa depan atau ke masa lalu?
Kuncir: Masa depan kan udah pasti kita temui, aku sih lebih ke masa lalu. Karena waktu berjalan maju.

Pameran Kuncir Sathya Viku, Comfort Zine masih berlangsung di Littletalks Ubud hinggak akhir bulan November 2018 ini. Dan jangan lupa untuk datang ke acara The Closing Party of the Comfort Zone pada tanggal 30 November 2018.

DSCF1697
30 Sep – Pembukaan Pameran ‘Comfort Zone’
DSCF1706
30 Sep – SS turut memeriahkan pembukaan pameran ‘Comfort Zone’

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s