Dari Kediri ke Australia, berikut curhatan penulis Ahmad Zaenudin

Bulan Oktober 2018 lalu, Littletalks mendapatkan kehormatan untuk menjadi salah satu tempat peluncuran buku dalam rangka festival sastra Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Salah satu penulis yang meluncurkan bukunya di Littletalks adalah Ahmad Zaenudin.

Berasal dari Kediri, Jawa Timur, Ahmad Zaenudin adalah penulis paruh waktu dan akuntan paruh waktu, ia membagi waktunya antara Indonesia dan Australia. Novel perdananya, Emak Memakai Celana Dalamku , telah dipublikasikan oleh penerbit independen Indiebookcorner di Yogyakarta tahun lalu, dan buku keduanya yang diluncurkan pada 26 Oktober 2018 di Littletalks berjudul Banjarmelati. 

Bagi yang belum tahu siapa Mas Ahmad, beriku  bincang – bincang kecil kami dengannya. Silakan simak!

Littletalks: Menurut Mas sendiri, siapa sieh seorang Ahmad Zaenudin itu?

Ahmad Zaenudin: Ini pertanyaan yang tersulit, kujawab apa ya? Saya orang Indonesia, lahir di Indonesia, dan masih mencintai Indonesia meski sudah 8 tahun tinggal di luar negeri. Saya orangnya simpel tapi juga pencari, pencari keadilan, pencari kebenaran, dan juga pencari kenyamanan dan kebahagiaan (siapa juga yang tidak). Makanya teman-teman saya dulu melabeli saya yang resah, saya yang gelisah, saya yang berjuang, padahal waktu itu saya masih dalam proses mencari. Tapi itu dulu, saya sudah tidak mencari lagi sekarang, saya kira saya sudah dapat menempatkan saya sebagaimana mestinya, menikmati yang ada, yang dipunya, selagi sempat. Lagian umur sudah 42 tahun.

Littletalks: Telah menulis dua novel, yang pertama berjudul Ketika Emak Memakai Celana Dalamku dan buku kedua yang diluncurkan di Ubud Writers & Readers Festival 2018, Banjarmelati. Nah boleh diceritakan sedikit, apakah ada pesan personal atau keresahan saat menulis kedua buku tersebut?  

Ahmad Zaenudin: Buku yang pertama, saya tulis tak lama setelah ibu saya meninggal dunia, karena saya merasa ada beberapa hal tentang hubungan kami yang belum saya selesaikan ketika ibu saya masih hidup. Jadi buku itu seperti sebuah cara untuk menyelesaikan itu. Saya tak ingin menceritakan yang sedih-sedih, jadi saya pilih yang jenaka-jenaka saja, dan itu meringankan. Dan saya percaya ibu saya tak keberatan untuk diceritakan seperti itu. Kakak-kakak saya juga tidak keberatan. Untuk buku yang kedua, Banjarmelati, sebenarnya sudah saya tulis jauh sebelum saya menerbitkan buku pertama saya, ketika saya masih dalam proses mencari tadi, yang tentu saja ada keresahan dan kegelisahan di sana. Saya tidak ingin menuliskannya lewat blog, takut nanti isinya cuma curhat, jadi menulis sebuah buku/novel/kisah memang sepertinya pilihan yang paling tepat. Memang banyak sekali latar belakang yang sangat personal, tapi saya pilih bagian-bagian yang general. Jadi, karakter-karakter yang saya bentuk, meski karakter seperti itu saya alami sendiri dan tentunya tidak begitu populer, namun sebenarnya banyak sekali ditemukan di masyarakat. Tentu saja banyak pesan di dalamnya, tapi saya serahkan kepada pembaca, untuk menganalisanya, untuk memikirkannya, terserah pada mereka, apakah pesan itu bisa diterima atau tidak. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah kisah.

Littletalks: Apakah menulis mengubah keseharian Mas Ahmad? Apa yang dirasakan sebelum meluncurkan buku dan sesudah meluncurkan buku?

Ahmad Zaenudin: Menulis membuat saya merasa occupied di waktu senggang, tidak bingung mencari-cari acara, melakukan sesuatu yang berarti, meski membersihkan rumah atau pergi ke kafe ketemu teman juga sesuatu yang berarti. Sebelum meluncurkan buku, saya ingin meluncurkan buku. Setelah meluncurkan sebuah buku, saya ingin menulis lagi, mungkin dua atau tiga buku lagi. Tapi saya ingin ada motivasi untuk menulis dan menulis lagi, seperti misalnya buku yang sudah saya luncurkan itu diapresiasi, dibaca. Tapi tentu saja itu sudah diluar kuasa saya. Itu ranahnya para pembaca. Kemarin Banjarmelati diterima menjadi bagian dari UWRF18, saya sangat bersyukur, sedikit banyak itu menambah motivasi saya untuk menulis lagi. 

Littletalks: Kalau boleh tahu buku favorite Mas Ahmad apa saja?

Ahmad Zaenudin: Saya tidak terpaku pada satu penulis saja. Untungnya kamu tidak menanya penulis favorit, karena penulis favorit saya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Untuk saat ini, saya suka Lelaki Harimaunya Eka Kurniawan dan Dawuknya Makhfud Ikhwan. Untuk karya penulis luar negeri, saya suka One Hundred Solitudenya Garcia Gabriel Marquez, Do not Say We Have Nothingnya Madeline Thien, dan English Patientnya Michael Ondaatje. 

Littletaks: Jika ditanya saat bertamu oleh tuan rumah,  lebih memilih teh atau kopi?

Ahmad Zaenudin: Tergantung waktu bertamunya. Kalau pagi atau siang saya pilih kopi, kalau selepas jam 4 sore saya memilih teh.

Bukunya yang berjudul Banjarmelati dapat kalian baca di perpustakaan kecil kami. Sampai jumpa di Littletalks!

Image Credit: Gege Tobing – Ubud Writers & Readers Festival 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s