“Apa yang Kaucari di Ubud, Vabyo?” – Berbincang dengan Valiant Budi, Penulis “Forgotten Colors”

vabyo1

VALIANT Budi mulai menulis novel pada tahun 2007 berjudul Joker, Ada Lelucon di Setiap Duka. Selanjutnya, ia terus berkarya; Bintang Bunting (2008), “Parfum Impian” di buku The Journeys; Kisah Perjalanan Para Pencerita (2011), Kedai 1001 Mimpi; Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI (2011), “Ramalan di Desa Emas” di buku Kala Kali (2012), “Kamis, Puk Puk” di buku Menuju(h) (2012), “Sahabat Gelap” di buku Memoritmo (2012), “Valiant ke Vatikan” di buku The Journeys 3 (2013), Kedai 1002 Mimpi (2014) dan novel terbarunya berjudul Forgotten Colors (2017).

***

Di atas adalah biografi singkat seorang Valiant Budi yang saya salin dari salah satu novelnya.

Saya bertemu dengan Valiant Budi atau akrab dipanggil Vabyo sekitar tahun 2013 di Ubud. Kami sering berpapasan di jalan-jalan desa Ubud namun baru bisa bekerja sama di salah satu acara sastra yang diadakan di Denpasar, Bali. Saat itu saya belum mengenal siapa dia ataupun membaca salah satu buku- bukunya, sampai akhirnya mencoba mencari tahu, siapakah dia? Buku apa yang ia tulis? Dan Mengapa dia di Ubud?

Yang saya tahu akhirnya ia adalah Kedai 1001 Mimpi. Saya pikir, dia hanya tinggal di Ubud untuk waktu yang sementara dan singkat, ternyata Vabyo masih ada, bergentayangan, dan melahirkan sebuah novel di Bali.

Berikut adalah sesi intim saya dengan penulis buku Forgotten Colors, yang saya rangkum menjadi 11 pertanyaan rahasia saya untuk Vabyo.

Gustra:
Halo Vabyo apa kabar? Semakin bahagia saja ya! Dari dulu saya ingin bertanya, mengapa Ubud? Mengapa pergi dari Bandung? Apa yang sebenarnya Vabyo cari di Ubud? Maaf ya, ini menjadi pertanyaan pertama saya.

Vabyo:
Halo, Gustra! Kabarnya lagi kembang kempis bahagia. Jadi begini, saya seneng banget jadi orang asing; menjelajahi tanah yang belum pernah terjamah diri. Nah, tahun 2013 saya mengunjungi sahabat, Windy Ariestanty, yang sedang mewawancarai ibu Robin Lim di Ubud. Niat kunjungan ini cuma dua minggu, tiba-tiba jadi sebulan, tahu-tahu beli tiang jemuran, kemudian lanjut tiga bulan—sampai akhirnya tiga tahun. Yang saya cari di Ubud itu banyak banget, dari tiang jemuran, gayung air, kulkas mini, apa pun yang bikin hidup mudah.

Gustra:
Jika bicara tentang Ubud, apa yang menarik tentang Ubud? Seberapa besar Ubud memberikan pengaruh bagi tulisan – tulisan Vabyo?

Vabyo:
Seringkali yang membuat betah adalah rasa rumah. Saya tinggal di Bandung utara. Lekuk jejalanan dan pepohonan Ubud itu mirip-mirip Bandung bagian utara. Selain itu, Ubud terhiasi dengan harum dupa, wangi bunga, langit yang lebih biru, dan bunga-bunga bermekaran dari jajaran pohon kamboja. Ngangenin, deh.

Ada pohon beringin di pasar Peliatan yang selalu menarik perhatian saya: sari akar-akar pohon yang menjuntai dan ruang kecil di atas pohon. Pohon beringin itulah salah satu inspirasi novel terbaru Forgotten Colors; menjadi pembuka dan kunci cerita. Jadi pengaruh Ubud untuk tulisan saya sebesar pohon beringin!

Gustra:
Jika Ubud tidak ada, daerah mana di Bali yang membuat Vabyo merasa nyaman?

Vabyo:
Saya nyaman bila suasana tenang; area yang tidak sekomersil Kuta, tidak seramai Seminyak. Lebih asyik lagi kalau ada spot menulis dan tempat rebahan di bawah pohon rahasia. Tempat itu adalah Sanur! Tiap minggu, pasti ada acara kabur ke Sanur. Yuk #KaburKeSanur!

Gustra:
Saya sering melihat Vabyo berjalan kaki dari pusat desa Ubud menuju Desa Peliatan. Apakah rutinitas itu masih dilakukan? Apakah rutinitas ini juga Vabyo lakukan di kota – kota lain, misalnya saat menjadi TKI?

Vabyo:
Ternyata Gustra ini stalker, toh! Hahaha.
Dua tahun lalu kan terserang strok, jadi perlu olahraga yang tidak banyak hentakan; yaitu jalan kaki. Baru rajin jalan kaki itu, ya pas tinggal di Ubud ini. Waktu pas jadi TKI di Saudi sih, lebih sering bikin kopi ketimbang jalan kaki. Maklum, panas banget dan sering berbadai pasir. Lagipula saat itu belum mawas kesehatan, sih; lebih sibuk mikir bagaimana caranya kabur dari majikan!

Gustra:
Jika bertemu Vabyo atau mengikuti media sosialnya, Vabyo terlihat selalu senang dan bergembira. Tapi, pertanyaan tidak berhubungan dengan itu. Apa arti sebuah penderitaan dan kebahagian bagi seorang Valiant Budi?

Vabyo:
Bahagia itu buat dibagi-bagi. Menderita lebih nyaman sendiri. Karena itu lebih senang pamer bergembira. Menangis di kamar mandi saja bareng kecoak.

Gustra:
Pernah menjadi TKI, menulis lagu, lulusan hukum di salah satu Universitas di Bandung, seorang penyiar radio, penulis, adakah yang belum tercapai atau ingin dicapai lagi?

Vabyo:
Tentu ada; berkebun! Ada kebahagiaan tersendiri ketika jemari meremas tanah, menanamkan benih, dan menyaksikan mereka tumbuh kembang, berkecambah, berbuah.
Di rumah orangtua di Bandung, kami menanam bermacam-macam tanaman dan buah, mulai daun jeruk, sawo, pepaya, sampai cabai. Sayang di Ubud belum punya tanah, nih! Baru ada pot, itu pun pinjam teman.

Gustra:
Dalam karya – karya Vabyo, seberapa besar pengaruh kehidupan nyata dalam karya – karyamu? Menurut Vabyo pentingkah kejadian atau pengalaman hidup bagi seorang penulis?

Vabyo:
Semakin sini, porsi kemiripan novel dengan kehidupan nyata semakin besar!
Novel pertama Joker—Ada Lelucon Di Setiap Duka, berlatar belakang dunia broadcasting, yang mana saat itu saya kerja di radio. Novel terbaru; Forgotten Colors, saya dan karakter utama sama-sama seorang penyintas strok. Jadi pengalaman hidup itu memperkaya tulisan. Tapi, memangnya ada profesi yang tidak mementingkan pengalaman hidup?

Gustra:
Bagaimana cara Vabyo meminta bill kepada pelayan di café? Misalnya gerakan – gerakan, atau langsung datang ke kasir?

Vabyo:
Saya biasanya langsung datang ke kasir sih, menunggu mereka selesai beraktivitas.
Berhubung pernah kerja jadi barista sekaligus menyambi jadi kasir dan cleaner, tau rasanya ketika lagi sibuk bersih-bersih meja misalnya, kepala direcoki pesanan-pesanan pengunjung yang kadang ribet itu. Belum ada yang nyari sambel, ada yang nanya toilet di mana, nanya wifi password.

Dulu pas kerja di Saudi, awal-awal sering kaget. Mereka kalau meminta bill kayak menggal telapak tangan. Kalau perlu kami, kayak manggil burung. Semenjak itu, saya semakin menaruh hormat pada pelayan cafe. Profesi ini sungguh pekerjaan multitalenta!

Gustra:
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana sesungguhnya proses kreatif seorang Vabyo?” Jujur, apakah itu menjadi pertanyaan yang membosankan? Sebutkan juga kelakuan pembaca yang paling menganggu selama ini?

Vabyo:
Sesungguhnya itu tidak sebosan pertanyan “Sudah makan?” kok!
Eh, pertanyaan ini perlu dijawab, gak? Jadi, saya semakin kreatif ketika tertekan. Semua buku saya berawal dari keresahan. Jadi proses kreatif saya adalah memanfaatkan sensasi sakit hati, mendaur ulang musibah menjadi berkah. Kelakuan pembaca yang paling mengganggu adalah mereka yang menggemboskan ban mobil dan teror meneror.

Gustra:
Sebutkan satu hal menurut Vabyo yang perlu penulis lain ketahui sebagai penulis?

Vabyo:
Writer’s block itu cuma ilusi. Takut menulis jelek adalah kenyataan. Solusi: bebaskan tulisan, pertajam suntingan.

Gustra:
Bagaimana menurut Vabyo tentang perkembangan penulis – penulis asal Bali saat ini?

Vabyo:
Saya mau jujur mengaku dosa, 2 tahun terakhir tidak begitu mengikuti perkembangan sastra, termasuk penulis Bali. Karena kebutuhan, saya lebih banyak baca buku-buku kesehatan.

Saya pernah baca buku karya Putu Fajar Arcana, berjudul Surat Merah Untuk Bali, terbitan tahun 2007. Di buku itu ada sebuah ‘Pertanyaan untuk tradisi’, tentang sahabat wanitanya yang frustasi karena sering dicemooh akibat bekerja sebagai pembawa acara—karena sejatinya wanita itu harus mengurus rumah tangga.

Selalu mencengangkan bila mengetahui sesuatu yang dianggap biasa di suatu daerah, bisa jadi tabu di daerah lain.

Saya ingin sekali membaca perspektif penulis muda tentang adat istiadat Bali. Saya pun banyak pertanyaan dan pengamatan selama tinggal di Bali. Tapi sebagai pendatang, saya rasanya sungkan kalau ibarat sudah numpang, malah ‘ikut campur’ urusan yang punya rumah. Jadi, kalau ada rekomendasi buku penulis Bali, mohon colek saya ya?

Gustra: 
Hahaha.. Terima kasih atas waktunya ya Vabyo. Semoga sukses selalu!

***

eflayer

Valiant Budi akan meluncurkan bukunya yang berjudul Forgotten Color di Littletalks Ubud, Bali pada tanggal 29 September 2017, pukul 19:00 Wita. Vabyo mengundang semua kawan – kawan untuk datang ke Undangan Tumpengan Forgotten Colors, merayakan mimpi, kenangan, dan kerinduan. Sampai jumpa di Littletalks Ubud! (T)

Tulisan ini dimuat di Tatkala.co 

IGOR KolaborAsik Exhibition Menyambut Pasar – Pasaran

f45e25a953fffce266d7d6e76b510909IGOR adalah monster yang lahir dari mutasi mie instan, MSG dan panci – panci yang dicuci setahun sekali di satu warung kopi 24 jam. Menjadi momok mereka yang tidak menghabiskan pesanan mie instan, dan mereka yang tidak becus membuat mie instan sehingga gag enak rasa. Karena bagi dia, setiap pengorbanan semangkok mie instan harus dihargai.

Menyambut Pasar-pasaran, acara yang paling ditunggu-tunggu para seniman, pengerajin, kreator berbakat dan penggemar harta karun akan dimulai oleh kolaborasi IGOR bersama kawan – kawan di Littletalks Ubud.

Siapa di balik monster mie instan IGOR?
Dia adalah Alam Taslim. Kelahiran Surabaya dan penggila mie instan. Lulusan Desain Produk di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, dan telah menghabiskan 10 tahun bekerja sebagai Art Director di berbagai Advertising Agency nasional dan internasional di Jakarta. Kerasnya kehidupan Ibukota ditaklukan bersama bermangkok-mangkok mie instan ketika lembur dan ketika akhir bulan. Monster Igor lahir tahun 2015 di warung kopi daerah Setiabudi, dan bersama monster inilah, Alam Taslim memutuskan untuk nekad meninggalkan pekerjaan kantoran dan serius menjadi seniman dan pindah ke Ubud, Bali.

DSCF7038.jpg

Kali ini Littletalks Ubud mendapatkan kesempatan yang sangat langka untuk berkolaborasi bersama Alam Taslim dan kawan – kawan dalam menyambut Pasar-pasaran. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 16 – 30 September di LIttletalks Ubud. Penasaran apakah IGOR akan mengamuk dan mengacak – ngacak Littletalks Ubud? Hadiri pembukaan pameran ini pada tanggal 16 September mulai jam 7 malam di Littletalks Ubud.

Tentang Pasar – Pasaran
Pasar – pasaran adalah sebuah bi-annual artsy crafty market. Tahun ini, setiap peserta akan berkolaborasi dengan pengerajin, crafter, desainer, seniman, brand, komunitas, organisasi untuk membuat proyek yang akan ditampilkan pada Minggu, 17 September di Garden, Jalan Nyuh Kuning mulai jam 9.30 pagi – 6 sore. Pasar – pasaran juga menghadirkan Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta.

Pameran “Faces of Bali” diperpanjang hingga 10 September 2017

Setelah resmi dibuka pada tanggal 10 Agustus 2017 dan rencananya akan ditutup pada tanggal 31 Agustus, akhirnya #GNDLMGLJ akan memperpanjang pameran ini hingga 10 September 2017.

Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa seni adalah untuk siapa saja, dapat dilakukan dimana saja maka kolektif #GNDLMGLJ ini makin memantapkan diri bahwa tidak ada batasan dalam berkarya. Sebelumnya kelompok ini telah melangsungkan seri #RekamJalan di Denpasar Bali.

Mario Andi Supria, Stefanus Bayu, Joe Christian, Kass Sudrajat, Ruth Onduko, dan Arzelita Linando memberikan kesempatan bagi kawan – kawan untuk menikmati karya mereka hingga 10 September 2017 di Littletalks Ubud.

Sekilas Tentang #RekamWajah

Konsep #rekamwajah khususnya wajah-wajah Bali ini tercetus dari sebuah ide bahwa yang mereka tangkap lewat kamera itu tidak sekadar muka saja, tapi dapat merepresentasikan apa yang ada di Bali. Kearifan lokal, industri seni, komodifikasi, peranan, semua dapat terbaca dari wajah-wajah ini.

 

2017_0826_13303500

Bali dengan budaya komunalnya yang kuat dan banyaknya upacara-upacara adat mempunyai daya pikat yang luar biasa. Perempuan Bali khususnya memainkan peran sentral dan integral dalam upacara adat, tanpa mereka keseluruhan sistem tidak akan berjalan baik meski peran mereka berbeda dengan para lelaki Bali. Bahkan sedari kecil, anak perempuan Bali pun sudah diberikan peran dalam tugas-tugas adat di desanya. Belajar menari, membuat canang, menghaturkan banten, sudah menjadi bagian dari tugas kesehariannya. Sisi cantik perempuan Bali ini yang diangkat oleh tiga fotografer Mario Andi Supria, Stefanus Bayu dan Joe Christian. Cantik dengan definisi mereka masing-masing.

Sementara, Ruth Onduko melihat sisi cantik dari wajah bali yang ia rekam adalah sebuah bentuk komodifikasi. Kecantikan yang dibuat sedemikian rupa agar Bali mampu bertahan dengan menjual keindahannya sebagai sebuah industri.

2017_0826_13295000

Bali juga sangat terkenal dengan seni tari tradisinya. Kass Sudrajat menangkap ekspresi para penari wayang wong Tejakula mulai dari persiapan sebelum pentas hingga selepas pentas. Identitas para penari topeng ini tersamarkan dalam sebuah pertunjukan tari, tak jarang kita yang menonton pertunjukan tari tradisi Bali tidak pernah tahu siapa sosok dibalik topeng dan make up tebal para penari.

Ilustrasi Arzelita kali ini fokus pada keunikan dari tiap garis guratan wajah manusia. Arzelita mencoa mengangkat wajah-wajah lelaki bali yang terkadang “second place” dari perempuan Bali, sebagai inspirasi kekaryaanya. Sudut pandang berbeda dalam #rekamwajah dilihat dari kacamata gender. Ada kesadaran bahwa lebih banyak dokumentasi wajah bali yang rata-rata didominasi oleh perempuan. Arzelita mencoba menawarkan keindahan dalam bentuk dan persepsi yang berbeda.

2017_0826_13370600

Pameran yang tidak biasa ini, dipamerkan di tempat kecil kami dengan menggunakan ruang yang sudah ada, di atas buku, dinding, disebuah lemari, bahkan diantara dua pelangkiran. Mereka juga menyediakan sebuah sebuah karya yang siap untuk kalian bawa pulang.

2017_0826_13351700

Penasaran? Ayo segera datang ke Littletalks Ubud. Kami buka dari jam 8 pagi hingga 10 malam setiap hari.

Ruangbaca & Kapal Udara dari Makassar akan tampil di Music in the Library Vol. 6

Music in the Library merupakan salah satu acara khusus yang kami buat untuk berbagi ruang kecil kami kepada kawan – kawan musisi untuk tampil dan berbagi cerita tentang mereka. Dengan suasana perpustakaan, kafe, dan ditambah suara merdu aliran sungai Campuhan, Music in the Library menjadi hal yang sangat berbeda untuk dinikmati.

Pada Selasa, 22 Agustus 2017  kembali kami mengadakan Music in the Library bersama dua tamu istimewa dari Makassar yaitu Ruangbaca dan Kapal Udara. Jauh – jauh mereka datang dari Makassar untuk menghibur kita semua yang di Bali. Lalu siapakah sebenarnya mereka? Mari kenali lebih dekat dua kawan kita ini.

Ruangbaca merupakan duo pop/folk yang dibentuk pada awal tahun 2015. Duo ini tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan Katakerja—sebuah rumah perpustakaan yang sering menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kreatif di Makassar. Ruangbaca merupakan proyek kampanye perpustakaan oleh Katakerja. Ruangbaca membuat musik sebagai siasat untuk mengampanyekan perpustakaan kepada khalayak umum.

ruangbacaRuangbaca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo (Gitar/Vocal) dan Viny Mamonto (Vocal/pianica), telah memiliki sejumlah lagu untuk persiapan album pertamanya. Lagu-lagu Ruangbaca memiliki khas pada tiap-tiap lirik di dalamnya. Beberapa di antaranya merupakan interpretasi dan musikalisasi dari sejumlah buku dan puisi yang disukai.
Walaupun terbilang masih baru di dunia musik, Ruangbaca sudah sering tampil di berbagai panggung. Hal ini tidak lepas dari dukungan oleh komunitas-komunitas kreatif dan orang-orang yang mendukung konsep kampanye literasi di Makassar. Ruangbaca dapat dikenali lebih lanjut di instagram , twitter, dan soundcloud.

Kapal Udara, sebuah nama yang unik bagi sebuah band. Mengaku terbentuk dari pertemuan di sebuah kampus pada akhir 2014. Kapal Udara adalah kendaraan yang dapat terbang di udara dan berlayar di laut. Dengan menggunakan nama ini, para personil berharap musik Kapal Udara bisa didengarkan di mana saja.

kapal udara

Musik Kapal Udara bisa dikatakan easy listening. Kapal Udara senang dengan beat lagu yang membuat orang mengangguk-ngangguk seperti sedang mendengarkan lagu dangdut. Pemilihan kata dalam liriknya, dibuat sesederhana mungkin sesuai dengan hal-hal yang ditemui di kehidupan sehari- hari. Di dalam demo Melaut, misalnya, Kapal Udara menggambarkan aktivitas nelayan mencari ikan di laut. Demo tersebut terinspirasi saat Kapal Udara bersama teman-teman lainnya, mendatangi tempat-tempat untuk mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar piknik.

Kapal Udara tidak bisa dilepaskan dari pertemanan di Kampus. Kapal Udara menganggap teman sebagai media yang nyata untuk bertukar dan menyebar gagasan. Melalui teman, Kapal Udara bisa mendapatkan inspirasi dalam bermusik. Melalui teman, Kapal Udara bisa memperpanjang perjalanannya. Hal itulah yang membuat Kapal Udara memiliki semboyan “Musik Mencari Teman”.

Lagu-lagu kapal udara dalam waktu dekat akan dirilis ke dalam mini album “Seru dari Hulu” berisi lima lagu berjudul Menyambut, Melaut, Menanam, Menari, dan Merantau. Bersamaan dengan itu, Kapal Udara berharap dapat menawarkan udara segar di musik Indie Indonesia.

Ingin tahu lebih banyak tentang Kapal Udara? Ikuti mereka di facebook, twitter, instagram, dan soundcloud.

Dan jangan lupa untuk hadir di MUSIC IN THE LIBRARY w/ Ruangbaca & Kapal Udara : Selasa, 22 Agustus, 2017 jam 7.30 malam di Littetalks Ubud. Gratis!

Kei, Kutemukan Cinta di Tengah Perang – Erni Aladjai

Kali ini Little Talks Ubud memuat tulisan dari Erma Watson yang telah membaca karangan Erni Aladjai yang berjudul Kei, novel ini telah memenangkan hadiah unggulan dari Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.

***

kei (1)Indonesia 1998 hingga tahun 2000an. Ingatan saya tidak begitu jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Indonesia dalam kurun waktu itu. Rusuh di Jakarta hingga berakhir pada tergulingnya kekuasaan Presiden Soeharto dan juga berita tentang rusuh yang terjadi di daerah-daerah seperti Maluku dan Ambon, hanya sebatas itu dan itupun hanya angin lalu bagi saya yang masih bocah SD.  Sekarang saya menyadari betapa beruntungnya diri saya saat itu masih bisa tetap hidup normal, pergi ke sekolah, makan dan tinggal di rumah dengan aman dan nyaman. Sementara di daerah lain ternyata sebagian masyarakatnya menjadi korban kerusuhan, tercekam dan kehilangan segalanya.

15 tahun atau lebih setelah tahun kelam itu, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang putri Indonesia bagian timur, Erni Aladjai, yang berjudul Kei.  Judul buku ini menarik bagi saya karena Kei adalah salah satu pulau di Indonesia yang ingin saya kunjungi. Namun buku ini bukanlah sebuah catatan perjalan ke Kei ataupun melulu tentang eksotisme Pulau Kei, buku ini mengisahkan romansa cinta yang tidak cengeng berlatar belakang kerusuhan dan tragedi yang terjadi di Pulau Kei sekitar tahun 1998. Meskipun ini hanyalah kisah fiktif namun beberapa peristiwa yang digambarkan dalam buku ini memang benar adanya, sesuai dengan catatan-catatan yang ada tentang kerusuhan Kei masa itu. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana kerusuhan dan kesedihan yang dialami Kei, mengajak saya untuk terbang ke Kei di masa kerusuhan itu terjadi. Pada masa itu dimana saya bisa hidup dengan nyaman di Bali, sementara masyarakat Kei ada didalam teror mencekam, kerusuhan dan perang antar desa.

Lembar demi lembar halaman buku ini mengajak saya untuk kembali mengingat bahwa Indonesia sangat luas, Sabang hingga Merauke, kaya akan etnis dan budaya, beragam suku dan agama. Betapa beratnya tugas kita, bangsa Indonesia untuk tetap menjaga keutuhan Indonesia ditengah gempuran intervensi berbagai golongan yang ingin kita tercerai berai. Dari buku ini saya belajar bahwa pada dasarnya setiap orang menginginkan perdamaian, setiap orang tidak ingin dibedakan dan pertikaian atas nama agama itu hanyalah omong kosong. Para penganut agama tertentu bisa hidup damai berdampingan dengan pemeluk agama lain. Bukankah semua agama mengajarkan tentang kedamaian dan toleransi?

***

Jika kamu suka menulis resensi atau komentar tentang buku silakan kirim tulisan kamu ke littletalksubud@gmail.com

Ning di Bawah Gerhana

Judul buku : Ning di Bawah Gerhana, 17 Cerita Pendek
Penulis       : Erni Aladjai
Penerbit     : Bumen Pustaka Emas
Halaman    : 154  
ISBN           : 978-602-18849-2-8
Cetakan I   : Februari 2013

Ning Di Bawah GerhanaSebuah buku berisi kumpulan cerpen karya Erni Aladjai ini mengisahkan banyak tragedi dan cerita unik yang pendek dan begitu membuat kulit terasa dihempas angin laut, begitu nyata terdengar, seperti dongeng seseorang yang kesepian lalu ia mendongeng pada teman, sahabat, anak, dan orang yang baru dikenalnya. Benar – benar membawa bau garam kedalam kamar pembaca.

Terdiri dari 17 Cerita pendek, masing – masing memiliki kisah, masalah, dan cerita khasnya. Sejenak memang seperi membaca Indonesia. Berwisata ke sebuah negeri laut, kedaerahan, maritim, dan bau laut yang menempel. Buku ini mengambil judul Ning di Bawah Gerhana yang merupakan judul cerpen di halaman 135. Ada pertanyaan besar, Mengapa judul ini diambil untuk sebuah judul buku? Padahal masih ada 16 cerita pendek lainnya. Jika kamu membaca semua cerita pendek dalam buku ini kamu akan segera mengerti mengapa judul ini dipilih.

Erni Aladjai berjanji pada dirinya untuk menjadi tukang cerita dan penabung buku. Ia berjanji hingga buku ini selesai ia tulis. Dan  jika kamu membaca dibagian Pengantar dari Tukang Cerita kamu makin yakin Erni Aladjai adalah seorang penulis yang tidak perlu kamu baca biografinya karena menurut saya karyanya adalah dirinya sesungguhnya. Seperti laut yang dalam kelihatannya tenang dan biru namun menghanyutkan pada akhirnya. Seperti itulah karyanya, tenang, sederhana namun mengejutkan ketika membacanya.

Berikut penggalan – penggalan pengalaman ketika membaca cerpen – cerpen yang tergabung di dalam buku Ning di Bawah Gerhana:

Halaman 1: Sam Po Soei Soe, Si Juru Masak

Suasana laut, sejarah dan budaya Indonesia langsung memberikan sebuah imajinasi untuk mengawali  buku ini. Mungkin awalnya kamu akan merasa semua cerita pendek dalam buku ini akan berbicara tentang sejarah dan Nenek Moyang kita yang konon merupakan pelaut itu. Namun tidak.

Sudah kau temukan pelabuhanmu. Di tanah mana pun kau bermukin, itu adalah kampung halamanmu, kita semua sama berdarah merah!

Halaman 11:Rum

Kekuatan cinta seorang perempuan yang menunggu. Menunggu kisah – kisah menyedihkan yang diceritakan oleh lelakinya. Mencintai sosok dewasa yang dekat dengan hutan, sawit dan kebaikan.

Bagi Saurin menunggu lelaki itu pulang, serupa menunggu Tuhan mengabulkan doanya. Selalu penuh rahasia dan kejutan.

Halaman 19: 16 Peti

Ada sosok Bung Hatta dan seperti membaca kisah Nyai Ontosoroh. Cerpen ini membuat aku percaya mungkin kala itu perempuan sangat ingin menjadi pintar.

Kutinggalkan suamiku, Jumati, karena ternyata ia lebih mencintai burung perkututnya ketimbang aku.

Halaman 27: Paus Yang Terdampar 

Jika memang paus – paus di lautan bisa berucap layaknya manusia, mungkin mereka akan menulis banyak surat untuk manusia, cerita petualangan, dan buku – buku kelautan. Diceritakan oleh ikan Paus, cerpen ini begitu memberikan imajinasi sebuah ide lain bagi para pembaca yang terinspirasi.

Hidup rupanya hanya daur ulang; Kebahagiaan, Ketakutan, Bergantian tak terduga

Halaman 35: Lelaki dan Kopi

Cerita pendek ini memberikan suasana yang memang kebanyakan penggila kopi lakukan. Tidak bisa hidup tanpa kopi. Penulisnya membuatnya terlihat seperti perbincangan biasa, namun di dalam secangkir kopi itulah para lelaki pencinta kopi menikmati hidupnya. Bahkan ketika ingin pergi dari rasa rapuhnya.

Baginya warung kopi adalah tempat ia bersembunyi dari kesunyian keruwetan masalah, juga kekecewaan pada perempuan

Halaman 43: Kota Kenangan

Sering sebuah kota memberikan kenangan pada manusia yang tinggal maupun datang ke kota itu. Ada sebuah magnet, sering orang mengatakan seperti itu. Seperti sebuah pengalaman, cerita pada bagian ini begitu jujur kadang menyenangkan kadang begitu menyeramkan.

Dia menyukai kota kecil itu. Sungguh. Taka da yang bisa membujuknya untuk meninggalkan kota itu, tak juga kekasihnya di Jakarta

Halaman 53: Pohon Batu

Entah batu ini memang benar ada atau hanya sebuah imajinasi penulisnya. Sindiran – sindiran begitu nyata terdengar. Layaknya realita yang diberitakan kepada anaknya nanti, ada sebuah pesan penting dari cerpen ini.

Halaman 63: Pohon Beringin yang Menangis

Jika membaca cerpen ini yang terbayang adalah sebuah desa dengan beringin besar di tengah – tengah desa. Seperti di Bali cerita pendek ini menceritakan dongeng – dongeng dan kebiasaan masyarakat Bali. Namun ini sepertinya bukan berlatar di Bali.

Pohon beringin dan anak itu benar – benar bersedih

Halaman 71: Nini Ingin Pulang Saum

Tertulis jelas di cerita pendek ini tantang rindu seorang Ibu pada rumahnya, kampung halamannya.

Banyak nyamuk, tak bisa nyenyak. Besok carilah sabut kelapa. lalu buatlah asapan di belakang rumah, biar nyamuk – nyamuknya mabok dan kapok datang, ” kata Ibu

Halaman 81: Pak Pengkong

Cerita tentang sosok kakek pelupa yang menjual bantal buatan istrinya. Selalu datang ke rumah warga untuk menjual bantal hingga suatu hari datang ke seorang Ibu dan Anak dan meminta minum. Kakek itu selalu datang hingga Ibu dan anak itu pergi ia masih datang kerumah lama mereka.

Kakek itu pernah dilaporkan ke Pak RT, karena sering mengetuk pintu rumah si montir saat tengah malam

Halaman 89: Ikan Bobara

Suka sekali ketika membaca cerpen ini, kisah hidup pasangan suami istri yang tinggal di pesisir. Istrinya sedang hamil dan ingin memakan Ikan yang bernama ikan Barbora yang harus didapatkan oleh suaminya.

Doanya hari itu, ia pulang dengan seekor ikan bobara di musim barat

Halaman 101: Neneidaba

Kalian harus membaca cerita pendek ini. Cerita tentang pelindung hutan dan masalahnya dengan para penebang dan pencemar sungai.

Ini sudah cukup, kami sudah kehilangan tanah adat, hutan dan satwa, kami tak mungkin kehilangan anak – anak

Halaman 109: Ikan Woku untuk Ulma

Seorang Ibu tidak akan bisa melihat kesedihan anaknya. Apapun yang anaknya minta, seorang Ibu akan berusaha untuk mewujudkannya. Cerita ini begitu memilukan, jika kamu membaca ini dan pernah merasakan masa kecil seperti ini, maka peluklah Ibumu segera. Kisah sedih juga kembali dibubuhkan oleh penulis di bagian akhir cerita ini.

Tubuh Andola nyaris ambruk, air mata menggenang di pelupuk matanya. Di dapur, Ulma begitu menikmati ikan kuah woku buatan ibunya.

Halaman 119: Sang Penyembuh

Kejadian pada cerita pernah terjadi dan banyak sekali terjadi di masyarakat Indonesia. Penulis menceritakannya layak sebuah dongeng tentang penyembuh yang hidup di masa lalu. Makin dalam kamu membacanya, makin tidak tahan untuk membaca cerpen berikutnya.

Halaman 127: Tondeng

Cerita tentang orang gila yang ternyata bukan orang gila. Pura – pura gila. Saking bencinya dia dengan hal – hal yang tidak disukainya, ia pun menjadi orang gila.

Lebih baik saya pura – pura gila saja daripada diperintah kerja bakti, kalau orang gila kan bebas kerja bakti

 Halaman 135: Ning di Bawah Gerhana

Memilukan dan sedih mendengar cerita ini. Kisah keluarga yang terdiri dari Ibu yang tua dan anak perempuan yang cacat dan hingga usia dewasanya belum juga ada yang meminang. Ibunya tetap berusaha walaupun cerita – cerita buruk menempa mereka.

……. Tubuh telanjang Ning mencangkung di pinggir tempayan. Inilah waktunya, ” bisik si perempuan tua.

Halaman 143: Air Mata Duyung

Duyung selalu menjadi binatang yang misterius. Begitu juga pelaut dan kisah – kisahnya. Selalu menjadi cerita yang asyik untuk ditulis. Sudah banyak ada tulisan tentang duyung, tetapi cerita ini berbeda.